“Tan,
kasian banget ya Syaiful Jamil”, Novi yang tidak pernah absen untuk menggosip.
“Yah,
mulai lagi nih BIGOSnya”, aku yang kadang sudah bosan dengan celotehan Novi
tentang artis-artis di TV.
Tapi di
sisi lain aku juga tidak mau mendengar hal yang berbau misteri atau yang horor-horor.
Teman-teman lain juga sudah bosan dengan berita ‘Syaiful Jamil’. Karena setiap
hari selalu muncul di TV dan dengan berita yang sama.
Aku,
Novi, Nadya, dan Septi sedang asyik bercanda dan menggosip juga sih. Hehehe…. .
Tiba-tiba Karina datang, tetap dengan gaya centilnya. Dan keliatan banget kalau
dia juga cerewet.
“Halo
semuanya! Main ke rumah dong!?”, si Karina mulai berbicara langsung mengundang
kita.
“Kapan?
Sekarang?”, tanyaku.
“Iya
sekarang Nad, Nov, Tan, Sep, Yop! Yaa.. mau yaa… . Lagian bulan syawalnya kan
juga belum habis. Jadi ceritanya kalian halal-bihalal ke rumahku. Sekalian bantuin
aku ngabisin kue”, rayu Karina.
Tanpa
berfikir panjang aku ikut dengan Karina. Karena di manapun Nadya berada di situ
juga pasti ada aku. Novi dan Septi, mereka juga ikut. Seentara Yoppy tidak bias
ikut karena ada jadwal les. Kami berlima berangkat ke rumah Karina dengan
kendaraan andalan, apalagi kalau bukan “angkutan Umum”.
Setelah
selesai makan di rumah Karina, aku langsung meminjam laptop si Karin.
“Intan!!!
Bentar-bentar. Buka tragedy Cipularang aja”, saran Nadya.
Deg! Aduh, aku berfikir sejenak. Kalau aku
nurutin Nadya aku pulang dari sini aku sendirian di rumah. Aku paling nggak
tahan melihat yang serem-serem, soalnya aku selalu merinding gitu. Di sisi lain
aku juga gak boleh egois dong? Sama aja mentingin diri sendiri.
“Hmmm,
okedeh”, jawabku sedikit gugup.
Waktu lagi
enak baca artikel sambil bergerombol. Tiba-tiba Nadya memecahkan keheningan
yang sesaat itu.
“……. Hati-hati
jika lewat di tol ini ada angin besar…… berarti…..?”
“Iya sih, emang……….. Ada yang
bilang kalau lewat daerah yang sepi kayak di tol ini trus ada angin besar…….dan,
dan ada bau anyir di dalam mobil itu berarti itu….ada…sesuatunya”, tambah
Nadya.
“Udah deh Nad, serem ah”, tanggap
Karina.
Iya nih. Liat aja sekarang hari
apa? Sekarang kan Jumat Kliwon!”, ujarku tanda ketakutan.
Tiba-tiba angin nggak enak yang
tanpa diundang lewat.
“Septi,
pulang yuk! Udah sore nih”, ajakku sambil menggayuh tas ransel coklat di
sebelah Nadya.
“Iya
Tan, aku juga udah gak tahan di sini”.
Karena
aku sudah tidak tahan melihat artikel tragedy Cipularang itu dan kejadian aneh
lainnya. Akhirnya aku memutuskan untuk berpamitan kepada Karina dan pulang
bersama Septi. Sementara teman-temanku yang lain sama sekali tidak terhiraukan
olehku.

0 Comments:
Post a Comment